LUNCURKAN KLINIK KRESNA, MASYARAKAT SAMBUT ANTUSIAS

Demi menekan angka ketergantungan rokok pada warga di wilayahnya, sejak Bulan Januari dibuka klinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) bernama Kresna di Puskesmas Oro-Oro Ombo. Menurut data pengunjung yang berobat ke Puskesmas Oro-Oro Ombo tiap harinya ada sekitar 10% perokok dengan rentang usia sekolah sampai lanjut usia. Kerugian yang ditimbulkan bukan hanya kepada si perokok, maka edukasi kepada anggota keluarga lain perlu dilakukan mengenai bahaya merokok. Perokok yang memiliki rentang usia sekolah hingga lanjut usia , baik yang masih merokok atau sudah tahap pengurangan batang rokok yang dihisap bisa berkonsultasi dengan konselor.

Klinik UBM Kresna memberikan pelayanan tiap hari Rabu sesuai jam pelayanan dengan konselor yang ramah dan terlatih. Alur pelayanan Klinik UBM Kresna dimulai dari loket, kemudian diperiksa di BP Umum dan atau langsung diarahkan ke Klinik UBM Kresna. Klinik UBM Kresna telah dilengkapi dengan pemeriksaan CO analyzer yang berguna untuk  mengetahui kadar CO (karbon monoksida) atau gas beracun yang tertimbun di dalam paru-parunya. Dengan mengetahui kadar gas beracun dalam paru-parunya diharapkan perokok semakin paham akan bahaya dari rokok. Konselor akan melakukan wawancara dengan perokok untuk mengevaluasi kondisi penderita dan diharapkan penderita untuk kontrol 2 minggu kemudian dari kunjungan pertama.

Merubah kebiasaan merokok bukan hal yang mudah sehingga pentingnya memotivasi keluarga untuk selalu mendukung penderita untuk bisa berhenti merokok. Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung pelayanan Klinik UBM Kresna. Semoga selalu ramah dan profesional dalam melayani penderita perokok.

Ditulis oleh : dr. Wuri Cana Rosyidah

DIFTERI, ANCAMAN BAGI KELUARGA ANDA

 

Akhir Tahun 2017 lalu, Indonesia dikejutkan dengan penemuan kasus Difteri di Jawa Barat dan Ibukota. Menyebarluasnya penyakit Difteri di berbagai wilayah di Indonesia membuat Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, untuk menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menyerang 95 kabupaten/kota di 20 provinsi.

Penetapan KLB berlanjut pada penetapan upaya penanggulangan segera oleh Nina Moeloek dalam memutuskan penularan, menurunkan jumlah kasus Difteri dan mencegah agar penyakit tersebut tidak semakin meluas melalui tindakan Outbreak Response Immunization (ORI). Tindakan ORI ini menyasar kelompok usia 1 sampai kurang dari 19 tahun dengan menggunakan vaksin yang mengandung Difteri yang disediakan oleh Pemerintah.

Outbreak Response Immunization (ORI) adalah kegiatan imunisasi tambahan yang khusus dilakukan di daerah yang mengalami KLB, sebanyak tiga putaran dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Imunisasi DPT-HB-Hib untuk anak usia < 5 tahun
  • Imunisai DT untuk anak usia 5 sampai < 7 tahun
  • Imunisasi TD untuk anak usia > 7 tahun

Perlu diketahui, Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung, dan juga kulit. Penyakit Difteri sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.

Biasanya, penularan Penyakit Difteri dari manusia ke manusia melalui percikan ludah yang keluar saat batuk atau bersin, kontak langsung dengan permukaan kulit atau luka terbuka, dan kontak dengan benda yang terkena kuman Difteri. Penyakit Difteri dapat menular kepada semua kelompok umur terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Gejala Difteri diantaranya adalah demam kurang lebih 38°C, adanya selaput berwarna putih di tenggorokan, hidung berair, bengkak di area leher, nyeri saat menelan dan kesulitan bernapas

 

 

PELAKSANAAN ORI DIFTERI DI KOTA MADIUN

Berdasarkan Surat Resmi dari Kementrian Kesehatan perihal Permohonan Dukungan terhadap Pelaksanaan ORI Difteri Tahun 2017 dan 2018, Kota Madiun masuk ke dalam 87 kabupaten/kota yang mendapatkan Outbreak Response Immunization (ORI). Puskesmas Oro-Oro Ombo melaksanakan kegiatan ORI Difteri terhitung mulai tanggal 5 Februari hingga 2 Maret 2018 untuk interval pertama. Interval bulan yang digunakan dalam ORI Difteri Kota Madiun adalah 0-5-5.

Kegiatan ORI Difteri dilaksanakan di posyandu balita, TK/PAUD, SD, Madrasah, SMP, dan SMA kelompok usia 1 sampai kurang dari 19 tahun, dengan cakupan sebanyak 41 TK/PAUD, 17 SD, 3 SMP, 12 SMA/SMK, dan 39 Posyandu Balita di wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo. Program ORI Difteri yang telah berlangsung ini diharapkan dapat memutus rantai penyebaran Penyakit Difteri di Kota Madiun.

Mari kita bebaskan Kota Madiun dari penularan penyakit Difteri! (Cherlly)

Sosialisasi ORI Difteri

Pada tanggal 5 Februari hingga 2 Maret 2018 dilaksanakan secara serentak Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri di Kota Madiun. Sebelum kegiatan ORI terlaksana, Puskesmas Oro-Oro Ombo Kota Madiun melaksanakan kegiatan Sosialisasi mengenai ORI Difteri dan pelaksanaannya kepada lintas sektor di wilayah kerja puskesmas.

Sosialisasi ORI Difteri dilaksanakan dalam 2 hari. Hari pertama dilaksanakan pada tanggal 24 Januari dengan sasaran seluruh perwakilan kader posyandu balita dan guru TK/PAUD di wilker puskesmas. Pelaksanaan sosialisasi hari kedua tanggal 25 Januari dengan sasaran perwakilan seluruh guru SD/SMP/SMA di wilker puskesmas.

Selain melalui kegiatan pertemuan, sosialisasi ORI Difetri juga dilakukan melalui kegiatan siaran keliling yang dilaksanakan tim Promosi Kesehatan Puskesmas dengan sasaran 5 Kelurahan yaitu Klegen, Kanigoro, Oro-Oro Ombo, Kartoharjo dan Sukosari. (devi)

Pemeriksaan Penyakit Tidak Menular PTM di SDN Oro-Oro Ombo Madiun

 

Mengawali tahun baru di Tahun 2018, UPTD Puskesmas Oro-Oro Ombo menambah Pemeriksaan PTM (Penyakit Tidak Menular) di berbagai instansi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Oro-Oro Ombo Kota Madiun. Salah satunya yaitu di wilayah Kelurahan Oro-Oro Ombo yaitu di SDN Oro-Oro Ombo di Jalan Biduri Kota Madiun.

Pemeriksaan PTM (Penyakit Tidak Menular) meliputi anamnesa gaya hidup, pemeriksaan tekanan darah, penghitungan IMT, pemeriksaan GDA, dan konsultasi dokter. Sebanyak 35 pengajar mengikuti pemeriksaan ini.

Ibu Candra selaku Pengelola Program PTM menjelaskan bahwa Pemeriksaan PTM ini bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian yang disdebabkan penyakit tidak menular dengan melaksanakan kegiatan upaya pengendalian PTM yang berbasis masyarakat. Nantinya, penambahan unit Pemeriksaan PTM juga akan dilakukan di Kelurahan Sukosari Madiun.

Yuk, hidup sehat dimulai dari sekarang! (cherlly-red)

 

 

Penilaian Lomba Bina Keluarga Balita Kelurahan Klegen Tahun 2017

Hari Sabtu tanggal 16 Desember 2017 telah dilaksanakan Penilaian Lomba Bina Keluarga Balita (BKB) di  Kelurahan Klegen Kecamatan Kartoharjo Kota Madiun. Penilaian Lomba Bina Keluarga Balita (BKB) bertempat di kediaman Ibu Sri Cahyo, Jalan Thamrin Gang VII Kelurahan Klegen.

Acara Penilaian Lomba Bina Keluarga Balita (BKB) dimulai pada pukul 08.30 WIB dan dibuka oleh Lurah Klegen, Didik Srihadi S.Sos. Pada acara tersebut turut mengundang kader balita, ibu bayi balita Posyandu II Klegen, dan perangkat desa Kelurahan Klegen.

Dalam pembukaannya, Bapak Didik Srihadi, S.Sos selaku Lurah Klegen menunjukkan antusiasnya sebagai tuan rumah Penilaian Lomba BKB dan berharap agar Kelurahan Klegen dapat meraih hasil yang memuaskan.

Penilaian Lomba Bina Kelurga Balita (BKB) Dahlia ini merupakan lomba kedua dari bidang KB setelah sebelumnya BKR Tulip telah dilakukan penilaian pada bulan Nopember lalu. Tim Penilai Lomba BKB menilai dari segi administrasi dan bukti pelaksanaan kegiatan BKB Dahlia di lapangan.

Acara berakhir pada pukul 10.00 WIB dan ditutup dengan sesi foto bersama Tim Penilai dari Dinas Kesehatan dan KB beserta kader BKB Dahlia. (cherlly – red)

 

Siaran Keliling : Cegah Difteri dengan Imunisasi

Siaran Keliling merupakan media pemberian informasi kesehatan pada masyarakat luas dengan cara berkeliling dengan mengendarai mobil dan memakai pengeras suara. Dalam kegiatan ini, siaran keliling merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh tim promkes setiap dua bulan sekali, namun bisa dilakukan secara tentatif sebulan sekali mengikuti informasi kesehatan yang terkini.

Pada bulan Desember, Puskesmas Oro-Oro Ombo melaksanakan kegiatan siaran keliling dengan tema “Cegah Difteri dengan Imunisasi”.

Hingga bulan November 2017, tercatat ada 95 kabupaten/kota dari 20 provinsi di Indonesia melaporkan kasus Difteri dan 11 provinsi dalam status KLB (Kejadian Luar Biasa).

Siaran keliling tentang Difteri dilakukan di 5 (lima) wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo meliputi Kelurahan Kanigoro, Kelurahan Klegen, Kelurahan Sukosari, Kelurahan Oro-Oro Ombo, dan Kelurahan Kartoharjo.

Dalam siaran keliling ini, petugas mengingatkan kembali agar masyarakat waspada terhadap gejala awal Difteri. Selain itu, masyarakat dihimbau agara menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan masker bila sedang batuk, dan segera berobat ke pelayanan kesehatan terdekat jika ada keluarga atau kerabat yang menderita demam.

Penyakit Difteri juga dapat menyerang di berbagai usia, tidak hanya anak-anak. Selain itu, penyakit Difteri dapat dicegah dengan imunisasi. Vaksin untuk imunisasi Difteri ada 3 jenis, yaitu vaksin DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi Difteri diberikan melalui Imunisasi Dasar pada bayi (di bawah 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak 1 bulan. Selanjutnya, diberikan Imunisasi Lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-Hib; pada anak sekolah tingkat dasar kelas-1 diberikan 1 dosis vaksin DT, lalu pada murid kelas-2 diberikan 1 dosis vaksin Td, kemudian pada murid kelas-5 diberikan 1 dosis vaksin Td.

Ayo, cegah Difteri dengan Imunisasi. (cherlly – red)

Kunjungan WHO Internasional ke Puskesmas Oro-Oro Madiun

Selama bulan Agustus – September 2017 telah dilakukan kegiatan Pekan Imunisasi Nasional Measles Rubella (MR) fase 1 yang dilaksanakan serentak di Pulau Jawa. Sasaran dari Imunisasi MR adalah bayi usia 9 bulan hingga anak usia kurang dari 15 tahun dan dilaksanakan di sekolah, puskesmas, posyandu, dan fasilitas kesehatan lainnya. Imunisasi MR bertujuan melindungi anak-anak kita dari penyakit campak dan rubella yang dapat menyebabkan cacat dan kematian.

Keberhasilan Kampanye dan Introduksi Imunisasi MR di Indonesia akan sangat berpengaruh pada keberhasilan pencapaian eliminasi di tingkat regional Asia Tenggara (SEARO). Hal ini sejalan dengan target di tingkat global dan regional untuk mencapai eliminasi penyakit campak dan rubella pada tahun 2020.

Pada tanggal 27 September 2017 kemarin, UPTD Puskesmas Oro-Oro Ombo Kota Madiun menerima kunjungan Internasional Observasi dan Monitoring WHO yaitu Asmaniar, selaku penanggungjawab (PIC) dan Dr. Carol Tevi-Benissan dari WHO HQ. Kunjungan ini dimaksudkan untuk mengobservasi dan memonitoring pelaksanaan kampanye dan introduksi imunisasi MR di Kota Madiun khususnya di Puskesmas Oro-Oro Ombo guna berbagi pengalaman kepada negara-negara lain yang belum melaksanakan imunisasi MR.

Ibu Asmaniar dalam pertemuan review bersama Puskesmas Oro-Oro Ombo menyampaikan bahwa Pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR di wilayah Puskesmas Oro-Oro Ombo telah berjalan dengan baik dan masyarakat di wilayah sekitar terpapar informasi yang tepat melalui media sosial, poster, leaflet, televisi, radio, informasi petugas kesehatan dan kader. Beliau berpesan bahwa petugas kesehatan bersama dengan kader kesehatan untuk melakukan sweeping beberapa minggu lagi guna memantau jika masih terdapat bayi/balita/anak-anak yang belum mendapatkan Imunisasi MR. (devi-red)

 

Skrining Kesehatan

Pada Bulan September hingga Oktober 2017 nanti, dilakukan Skrining Kesehatan untuk siswa baru Sekolah Dasar (SD)/MI, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)/sederajat dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK di wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo.

Skrining kesehatan selama Bulan September dilakukan di SMP dan SMA sedangkan untuk Bulan Oktober, skrining kesehatan dilakukan di SD/MI. Kegiatan Skrining Kesehatan ini merupakan upaya pencegahan penyakit (preventif) dengan melakukan penjaringan terhadap anak baru masuk di sekolah. Dengan kegiatan ini, diharapkan petugas dapat mendeteksi secara dini  masalah kesehatan anak sekolah. Jika terjadi masalah serius terhadap kesehatan siswa, petugas dapat mengambil tindakan supaya masalah kesehatan tersebut tidak bertambah buruk.

Petugas puskesmas yang bertugas akan melakukan beberapa pemeriksaan, diantaranya adalah pemeriksaan tanda-tanda vital, seperti pemeriksaan status gizi dan pemeriksaan kebersihan diri. Selain itu ada pemeriksaan tekanan darah, test buta warna, pemeriksaan gula darah sewaktu, pemeriksaan kesehatan pendengaran, pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut dan pemeriksaan tajam penglihatan (visus).

Mari ciptakan generasi sehat dan kuat sehingga menjadikan Indonesia hebat dengan skrining kesehatan.

(cherlly-red)

Refreshing Taman Posyandu Puskesmas Oro-Oro Ombo Madiun

 

Taman Posyandu adalah layanan PAUD yang terintergrasi dengan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Bina Keluarga Balita (BKB). Aksi ini diprakarsai oleh para kader Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jawa Timur. Sejak Maret 2012, Pemerintah Jawa Timur mencanangkan Gerakan 10.000 Taman Posyandu, di mana layanan ini akan tersedia di setiap desa.

Kamis tanggal 7 September 2017 dilaksanakan kegiatan Refreshing Taman Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo. Bertempat di Gedung Pertemuan Kelurahan Sukosari dan dimulai pada pukul 09.00 – 10.30 WIB. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari kader taman posyandu dan petugas promkes. Bapak Mahsun selaku bidang PLKB mengisi materi tentang Kartu Kembang Anak (KKA). Bapak Mahsun juga menjelaskan tentang cara pengisian KKA serta memberikan dukungan kepada kader posyandu balita.

Pada pertemuan itu, untuk pertama kalinya video tentang Imunisasi Campak Rubella (MR) Puskesmas Oro-Oro Ombo dibagikan. Dari petugas promkes, menghimbau agar kader berperan serta dalam pelaksanaan Imunisasi Campak Rubella (MR)dengan cara mendata sasaran anak yang belum sekolah dan anak yang putus sekolah dibawah usia 15 tahun agar mendapatkan Imunisasi Campak Rubella (MR) di puskesmas.

Dengan terlaksananya pertemuan ini, diharapkan kader dapat menerapkan ilmu yang sudah didapatkan di posyandu masing-masing dan menularkan ilmu tersebut kepada kader yang lainnya. (cherlly-red)