Cerdas Dalam Penggunaan Antibiotik

 

Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter sebagai bagian pengobatan sendiri kini makin banyak dilakukan. padahal antibiotik merupakan jenis golongan obat resep dan tidak semestinya dapat dibeli dengan bebas.

Antibiotik merupakan obat resep dan bukan golongan obat bebas karena hanya melalui pemeriksaan dokter yang bisa membedakan infeksi akibat bakteri dari infeksi lain yang tidak bisa ditangani oleh antibiotik.

Konsumsi antibiotik sesuai dosis bertujuan mengurangi risiko timbulnya efek samping dan mencegah terjadinya resistensi antibiotik/bakteri kebal terhadap antibiotik. Jika bakteri kebal terhadap pengobatan dasar, maka akan meningkatkan risiko komplikasi dan kematian.

Untuk mencegah bakteri kebal terhadap antibiotik, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah :

  1. Jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik, dan harus sesuai dengan resep dokter.
  2. Bertanyalah kepada dokter, obat mana yang mengandung antibiotik baik dosis maupun cara pemakaiannya.
  3. tanyakan kembali saat menerima obat, manakah yang termasuk antibiotika dan yang harus dihabiskan.

Semoga informasi ini bisa membantu untuk lebih jelas mengenai antibiotika  bisa menanyakan di ruang farmasi puskesmas oro oro ombo bisa dengan apotekernya atau tenaga farmasi. Mari cerdas menggunakan antibiotik.

 

 

Penulis : Lukman Isma’il S.Fam.,Apt

Penyunting : Cherlly Pritta

 

WASPADA, KANKER SERVIKS !

Kanker serviks adalah kanker yang menyerang leher rahim. Kanker serviks dimulai ketika sel-sel yang sehat mengalami mutasi genetik atau perubahan pada DNA.  Mutasi genetik inilah yang menyebabkan perubahan sel normal menjadi abnormal yang kemudian sel ini berkembang biak dengan sangat cepat.

Gejala kanker serviks yang perlu diwaspadai adalah :

  1. Perdarahan di luar siklus menstruasi meskipun tidak sedang menggunakan KB hormonal;
  2. Nyeri berlebih dan perdarahan saat berhubungan seksual;
  3. Keputihan yang tidaknormal, biasanya berwarna kuning kehijauan (seperti nanah), gatal dan berbau busuk;
  4. Nyeri di daerah panggul.

Kanker serviks disebabkan oleh virus HPV (tipe 16 dan 18)  yang pada umumnya tersebar melalui hubungan seksual.  Adapun faktor yang meningkatkan resiko menderita kanker serviks adalah:

  1. Aktivitas seksualpadausia yang terlalu dini;
  2. Berganti-ganti pasangan seksual;
  3. Kebiasaan merokok;
  4. Sistem kekebalan tubuh yang lemah;
  5. Terlalusering melahirkan anak;
  6. Kontrasepsi hormonal lebih dari lima tahun.

Kanker serviks merupakan silent kanker bagi para wanitakarena penyakit ini tidak menimbulkan gejala pada stadium awal, dan baru menimbulkan gejala pada stadium lanjut.  Nah disini pentingnya dilakukan deteksi dini kanker serviksmelaluipemeriksaan IVA / papsmear.Karena penanganan pada stadium awal memiliki peluang sembuh lebih tinggi dibandingkan pada stadium lanjut.

Penulis : NurHeliana Sari, Amd. Keb

LANSIA SEJAHTERA, MASYARAKAT BAHAGIA

Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) diperingati setiap tanggal 29 Mei. Tahun 2018, HLUN mengangkat tema Lansia Sejahtera, Masyarakat Bahagia; dengan Sub Tema Bidang Kesehatan yaitu Lansia Sehat Mandiri diwujudkan dari Keluarga Sehat. Melalui tema ini diharapkan bangkit kembali pesan-pesan kesehatan bahwa sehat itu dimulai dari keluarga, sehat harus dijaga dengan menerapkan perilaku hidup sehat, dan berpartisipasi aktif dalam jaminan kesehatan nasional. Sehingga nantinya, akan terbangun keluarga yang sadar akan kesehatan dan terwujud Lansia yang sehat, mandiri dan produktif.

Sesuai dengan sub-tema HLUN 2018 bidang kesehatan yakni ”Lansia Sehat Mandiri Diwujudkan dari Keluarga Sehat”, menandakan bahwa keluarga merupakan unsur penting bagi bangsa dan negara. Generasi yang berkualitas untuk meraih bonus demografi pada tahun 2010-2035 tidak mungkin terwujud, jika saat janin di dalam kandungan asupan gizi ibu rendah, ketika asupan gizi balita tidak seimbang, selama usia sekolah mengalami kesulitan dalam belajar dan berprestasi. pada usia produktif kesulitan mendapatkan karir yang optimal karena kualitas hidup rendah dan terkena penyakit tidak menular akibat gaya hidup tidak sehat, serta ketika memasuki usia tua, terkena penyakit degeneratif.

Berdasarkan hasil Susenas tahun 2016, jumlah Lansia di Indonesia mencapai 22,4 juta jiwa atau 8,69% dari jumlah penduduk. Sementara menurut proyeksi BPS tahun 2015, pada tahun 2018 jumlah Lansia diperkirakan mencapai 9,3% atau 24,7 juta jiwa. Dengan jumlah Lansia yang semakin besar, menjadi tantangan bagi kita semua agar dapat mempersiapkan Lansia yang sehat dan mandiri sehingga nantinya tidak menjadi beban bagi masyarakat maupun negara, dan justru menjadi aset sumber daya manusia yang potensial.

“Saat ini, Indonesia menghadapi masalah kesehatan triple burden, yaitu masih tingginya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular dan muncul kembali penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi. Pada kelompok Lansia, Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, menunjukkan penyakit terbanyak pada Lansia adalah hipertensi (57,6%), selebihnya adalah arthritis, stroke dan beberapa penyakit lain”, kata Menkes Nila F. Moeloek saat membuka Seminar Nasional Kesehatan Lanjut Usia, di Griya Agung, Palembang (9/5).

Menkes menegaskan bahwa penanganan kasus penyakit tersebut tidak mudah karena penyakit pada Lansia umumnya merupakan penyakit degeneratif, kronis, dan multidiagnosis. Dengan demikian, penanganannya membutuhkan waktu dan biaya tinggi, yang akan menjadi beban bagi masyarakat dan pemerintah termasuk bagi Program Jaminan Kesehatan Nasional.

Sampai tahun 2018, terdapat 25 posyandu lansia di wilayah kerja UPTD Puskesmas Oro-Oro Ombo Kota Madiun yang tersebar di lima Kelurahan yaitu Kelurahan Kanigoro, Kelurahan Klegen, Kelurhan Oro-Oro Ombo, Kelurahan Sukosari dan Kelurahan Kartoharjo. Dengan adanya posyandu lansia diharapkan upaya promotif dan preventif dengan dukungan pelayanan kuratif dan rehabilitatif di Puskesmas Oro-Oro Ombo terhadap para lansia terlaksana secara maksimal.

Berita disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI dengan dilakukan penyuntingan oleh tim. (Editor : devi)

TANDORA Puskesmas Oro-Oro Ombo

Tandora atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kegiatan Donor Darah merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tiga bulan sekali di masing-msing kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo. Kelurahan yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo meliputi Oro-Oro Ombo, Klegen, Kanigoro, Kartoharjo, dan  Sukosari. Kegiatan Donor Darah yang telah berjalan ini difokuskan untuk P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi) sehingga dapat mengantisipasi terjadinya komplikasi pada ibu hamil, bersalin, dan nifas.

Bekerjasama dengan pihak PMI Kota Madiun, pelaksanaan donor darah biasa dilakukan di gedung pertemuan/ruang pertemuan di kantor kelurahan masing-masing wilayah. Peserta donor darah adalah masyarakat di kelurahan yang terkait dan tidak dipungut biaya. Pada Bulan Januari lalu telah dilaksanakan Tandora rutin di Kelurahan Kartoharjo. Yuk, donor darah! (cherlly)

 

Deteksi Dini melalui PTM

Pemeriksaan Kesehatan di Posbindu PTM merupakan salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Puskesmas Oro-Oro Ombo. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan deteksi dini faktor resiko penyakit tidak menular (PTM).

Tahun 2018, Puskesmas Oro-Oro Ombo memiliki 8 Posbindu PTM. Untuk wilayah Kelurahan Kanigoro terdapat di wilayah RW 1 dan UNIPMA. Wilayah Kelurahan Kartoharjo terdapat di Lansia Dewi Sinta dan Pusdikbang SDM Perhutani. Wilayah Kelurahan Sukosari terdapat di BPR Tunas Artha Baru dan PT. Refindo Intiselaras Indonesia. Sedangkan untuk wilayah Kelurahan Oro-Oro Ombo dan Klegen terdapat di SDN Oro-Oro Ombo dan SDN 3 Klegen. Posbindu PTM di PT. Refindo Intiselaras Indonesia, SDN Oro-Oro Ombo baru dan RW 1 Kelurahan Kanigoro baru dilaksanakan pada 2018 ini. (dayu)

Cegah Anemia Dengan TTD

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin kurang dari harga normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin (Tabel 1 dan 2). Gejala yaitu lemah, lesu, letih, mudah mengantuk, nafas pendek, nafsu makan berkurang, bibir tampak pucat, susah buang air besar, denyut jantung meningkat, kadang-kadang pusing (Supariasa , 2002).

Berdasarkan Riskesdas Kementerian Kesehatan RI (2013) anemia gizi besi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi pada anak 5-12 tahun sebesar 29%, ibu hamil 37,1%, remaja putri 13-18 tahun sebesar 22,7%.

Untuk menanggulangi dan mengantisipasi masalah anemia tersebut maka Kementerian Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran (SE) Kementrian Kesehatan No. HK.03.03/V/0595/2016 tentang Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri dan Wanita Usia Subur (WUS). Surat Edaran tersebut ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Madiun dengan pencanangan oleh Walikota Madiun, Bapak H. Sugeng Rismiyanto, SH. M.Hum, pada Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53 tanggal 17 Nopember 2017 di Kota Madiun dengan minum bersama Tablet Tambah Darah (TTD) oleh Remaja Putri (SLTP-SLTA) seminggu sekali satu tablet yaitu setiap hari selasa di sekolah.

Untuk wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo, pemberian TTD untuk WUS baru terbatas kepada ibu guru SLTP-SLTA yang diharapkan ikut minum bersama dengan para siswinya di setiap Hari Selasa. Sementara untuk WUS lainnya guna pencegahan anemia diharapkan minum TTD secara mandiri.

Ditulis oleh : Oleh : Deddi Haryono, SKM., M.Gz

 

 

Februari : Bulan Vitamin A

Setiap 2 kali dalam setahun, kita selalu mengingat adanya bulan Vitamin A yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Tepat pada bulan Februari dilaksanakan pemberian vitamin A di seluruh posyandu dan PAUD/TK wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo Kota Madiun. Terdapat 2 jenis Vitamin A yang diberikan yaitu kapsul berwarna biru dengan dosis 100.000 IU hanya untuk bayi usia 6-11 bulan dan kapsul berwarna merah dengan dosis 200.000 IU hanya untuk balita dan ibu nifas.

Pemberian vitamin A bisa dilakukan oleh petugas kesehatan ataupun para kader kesehatan posyandu. Jika putra-putri Anda belum sempat ke posyandu, Anda bisa mendapatkannya di Puskesmas terdekat. Dengan pemberian vitamin A bisa memberikan banyak manfaat bagi kesehatan bayi dan balita sedini mungkin. (devi)

Aplikasi Pokentik

Mari kita budayakan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dengan menggunakan aplikasi Pokentik!

Inilah seruan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), dalam sebuah video berdurasi lebih kurang 2 menit yang ditayangkan pada peringatan Asean Dengue Day (ADD) di SDN Baru 07 Cijantung, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa siang (2/8). Berawal dari inisiatif pribadi dua orang generasi muda yang merupakan sanitarian di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pencegahan Penyakit Palembang, Idan Awaludin dan Fison Hepimen, berhasil menuangkan ide dan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat yang kini diwujudkan dalam sebuah aplikasi sederhana bernama Pokentik yang merupakan akronim dari Kelompok Pemantau Jentik.

Pokentik merupakan aplikasi smartphone berbasis android yang dibuat untuk membantu masyarakat mengenal sekaligus membudayakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang merupakan upaya paling murah dan efektif dalam mencegah penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), Malaria, bahkan Zika. “Tujuan awalnya, lahirnya aplikasi Pokentik ini masyarakat yang sebelumnya tidak peduli dengan bahayanya jentik jadi lebih peduli, jadi lebih aware, jadi lebih rajin lagi bersihkan lingkungan sekitar”, terang Fison Hepimen.

Harapannya, kehadiran aplikasi Pokentik mampu mengubah mindset masyarakat bahwa yang masyarakat yang berhasil menemukan jentik adalah penyelamat. Berhasil mencegah satu jentik menetas menjadi seekor nyamuk, berarti menghilangkan satu risiko bagi keluarga tertular penyakit demam berdarah ataupun penyakit vektor nyamuk lainnya seperti malaria ataupun Zika. Ditambahkan oleh Idan Awaludin, bahwa aplikasi Pokentik ini selain ingin membudayakan digital movement di bidang kesehatan, kami juga menginginkan aplikasi yang tidak hanya sekedar memudahkan input data, namun juga memiliki spirit  movement untuk mengajak masyarakat membudayakan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (juru pemantau jentik) melalui PSN 3M Plus. Saat ini, sosialisasi aplikasi Pokentik sudah dilaksanakan di tiga wilayah kerja BTKL Palembang utamanya kepada para juru pemantau jentik (Jumantik) di 3 wilayah kerja Puskesmas, yaitu: Puskesmas Sukaramai, Puskesmas Alang-Alang Lebar, dan Puskesmas Talang Betutu. Diharapkan aplikasi ini dapat digunakan oleh para Jumantik untuk memudahkan pencatatan.

Sejak dirilis pada akhir tahun 2016 lalu, sempat ribuan orang mengunduh dan mencoba aplikasi tersebut. Namun saat ini, lebih kurang 500 pengunduh yang masih aktif menggunakan dan tergabung di dalam fanspage Pokentik. Aplikasi tersebut masih terus akan dikembangkan agar dapat dijalankan di iOs dan pengembangan fitur lainnya. “Pengembangan aplikasi ini, ide dan design memang dari kami berdua. Bahasa pencegahan kami paham, namun terkait coding dan bahasa pemrograman kami perlu dibantu. Perlu kolaborasi antara bidang kesehatan dengan bidang teknologi informatika dalam pengembangannya ke depan”, tandas Idan.

(Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian kesehatan RI)

GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)

Pembangunan Kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemamuan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Indonesia saat ini mengalami transisi epidemiologi yang ditandai dengan meningkatnya kematian dan kesakitan akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, jantung, diabetes dan lain-lain.

Meskipun kesakitan dan kematian akibat penyakit menular (PM)semakin menurun, prevalensi penyakit secara umum masih cukup tinggi. Periode 1990-2015, pola kematian akibat PTM semakin meningkat (37% menjadi 57%), akibat PM menurun (56% menjadi 38%) dan akibat kecelakaan akan meningkat (7% menjadi 13%), dan tren ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup (pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, merokok, dll).

Meningkatnya kasus PTM akan menambah beban pemerintah karena penanganannya membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, kasus PTM juga menyebabkan hilangnya potensi/modal sumber daya manusia dan menurunnya produktivitas (productivity loss) yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi. Upaya promotif dan preventif merupakan upaya yang sangat efektif untuk mencegah tingginya kesakitan dan kematian akibat PTM dan PM.

Mengingat pencegahan penyakit sangat tergantung pada perilaku individu yang didukung oleh kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana serta dukungan regulasi untuk hidup sehat, diperlukan keterlibatan aktif secara terus menerus seluruh komponen baik pemerintah pusat dan daerah, sektor nonpemerintah, dan masyarakat. Untuk itu, perlu adanya sebuah gerakan untuk mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Gerakan tersebut dinamakan “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat” (GERMAS).

source. promkes.depkes.go.id/pic. kabarbuton.com

 

TB atau Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri micro tuberculosis yang dapat menular melalui percikan dahak. Tuberkulosis bukan penyakit keturunan atau kutukan dan dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur, diawasi oleh Pengawasan Minum Obat (PMO). Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB. Sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi bisa juga organ tubuh lainnya.

Ketahuilah bahwa Tuberkulosis :

  1. Gejala awal penyakit Tuberkulosis (TB) tidak spesifik, umumnya adalah batuk produktif yang berkepanjangan (>3 minggu), sesak nafas, nyeri dada, anemia/kurang darah, batuk darah, rasa lelah, berkeringat di malam hari.
  2. TB mudah menular melalui udara yang tercemar oleh bakteri micro bacterium tuberculosa yang dilepaskan pada saat penderita TB paru batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TB paru dewasa.
  3. Penyakit TB dapat disembuhkan secara tuntas dengan minum obat secara rutin dan teratur, minimal selama 6 bulan dibantu oleh Pengawasan Minum Obat (PMO).
  4. Imunisasi BCG adalah salah satu alterbnatif pencegahan TB.
  5. Segera lakukan pencegahan penularan penyakit TB bila telah terdiagnosa.

Ada beberapa tips untuk membantu menjaga dan pencegahan penyakit TB kepada teman dan keluarga dari infeksi kuman :

  1. Tinggal di rumah. Jangan pergi kerja atau sekolah atau tidur di kamar dengan orang lain selama beberapa minggu pertama pengobatan untuk TB aktif
  2. Ventilasi ruangan. Kuman TB menyebar lebih mudah dalam ruangan tertutup kecil di mana udara tidak bergerak. Jika ventilasi ruangan masih kurang, buka jendela dan gunakan kipas untuk meniup udara dalam ruangan ke luar.
  3. Tutup mulut mengunakan masker. Gunakan masker untuk menutup mulut kapan saja ini merupakan langkah pencegahan TB secara efektif. Jangan lupa untuk membuang masker secara teratur.
  4. Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberikan desinfektan (air sabun).
  5. Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan
  6. Hindari udara dingin.
  7. Usahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur.
  8. Menjemur kasur, bantal, dan tempat tidur terutama pagi hari.
  9. Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak boleh digunakan oleh orang lain.
  10. Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein.

 

source. promkes.depkes.go.id/Pic. www.emaze.com