Sosialisasi Imunisasi MR

 

 

Dalam rangka menyukseskan program pemerintah yaitu Kampanye Nasional Imunisasi MR di seluruh wilayah Pulau Jawa, UPTD Puskesmas Oro-Oro Ombo melakukan bebrapa kali pertemuan dalam rangka sosialisasi kegiatan tersebut. Sosialisasi ini telah dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Juli secara berkelanjutan. Pada tanggal 17 Juli 2017 dilaksanakan sosialisasi kepada seluruh guru PAUD di wilayah kerja puskesmas, tanggal 19 Juli 2017 kepada seluruh kader posyandu balitawilayah kerja puskesmas dan tanggal 20 Juli 2017 kepada perwakilan guru SD dan SMP di wilayah kerja puskesmas.

 

 

Selain dilakukan sosialisasi imunisasi MR oleh dokter, juga diberikan informasi bahwa pemberian obat kecacingan bagi PAUD/TK dilaksanakan di minggu keempat bulan Juli dan di posyandu balita dilaksanakan di bulan Agustus 2017.

Mari sukseskan Imunisasi MR, agar Indonesia lebih sehat! (devi/red)

Aplikasi Pokentik

Mari kita budayakan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dengan menggunakan aplikasi Pokentik!

Inilah seruan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), dalam sebuah video berdurasi lebih kurang 2 menit yang ditayangkan pada peringatan Asean Dengue Day (ADD) di SDN Baru 07 Cijantung, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa siang (2/8). Berawal dari inisiatif pribadi dua orang generasi muda yang merupakan sanitarian di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pencegahan Penyakit Palembang, Idan Awaludin dan Fison Hepimen, berhasil menuangkan ide dan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat yang kini diwujudkan dalam sebuah aplikasi sederhana bernama Pokentik yang merupakan akronim dari Kelompok Pemantau Jentik.

Pokentik merupakan aplikasi smartphone berbasis android yang dibuat untuk membantu masyarakat mengenal sekaligus membudayakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang merupakan upaya paling murah dan efektif dalam mencegah penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), Malaria, bahkan Zika. “Tujuan awalnya, lahirnya aplikasi Pokentik ini masyarakat yang sebelumnya tidak peduli dengan bahayanya jentik jadi lebih peduli, jadi lebih aware, jadi lebih rajin lagi bersihkan lingkungan sekitar”, terang Fison Hepimen.

Harapannya, kehadiran aplikasi Pokentik mampu mengubah mindset masyarakat bahwa yang masyarakat yang berhasil menemukan jentik adalah penyelamat. Berhasil mencegah satu jentik menetas menjadi seekor nyamuk, berarti menghilangkan satu risiko bagi keluarga tertular penyakit demam berdarah ataupun penyakit vektor nyamuk lainnya seperti malaria ataupun Zika. Ditambahkan oleh Idan Awaludin, bahwa aplikasi Pokentik ini selain ingin membudayakan digital movement di bidang kesehatan, kami juga menginginkan aplikasi yang tidak hanya sekedar memudahkan input data, namun juga memiliki spirit  movement untuk mengajak masyarakat membudayakan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (juru pemantau jentik) melalui PSN 3M Plus. Saat ini, sosialisasi aplikasi Pokentik sudah dilaksanakan di tiga wilayah kerja BTKL Palembang utamanya kepada para juru pemantau jentik (Jumantik) di 3 wilayah kerja Puskesmas, yaitu: Puskesmas Sukaramai, Puskesmas Alang-Alang Lebar, dan Puskesmas Talang Betutu. Diharapkan aplikasi ini dapat digunakan oleh para Jumantik untuk memudahkan pencatatan.

Sejak dirilis pada akhir tahun 2016 lalu, sempat ribuan orang mengunduh dan mencoba aplikasi tersebut. Namun saat ini, lebih kurang 500 pengunduh yang masih aktif menggunakan dan tergabung di dalam fanspage Pokentik. Aplikasi tersebut masih terus akan dikembangkan agar dapat dijalankan di iOs dan pengembangan fitur lainnya. “Pengembangan aplikasi ini, ide dan design memang dari kami berdua. Bahasa pencegahan kami paham, namun terkait coding dan bahasa pemrograman kami perlu dibantu. Perlu kolaborasi antara bidang kesehatan dengan bidang teknologi informatika dalam pengembangannya ke depan”, tandas Idan.

(Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian kesehatan RI)

GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)

Pembangunan Kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemamuan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Indonesia saat ini mengalami transisi epidemiologi yang ditandai dengan meningkatnya kematian dan kesakitan akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, jantung, diabetes dan lain-lain.

Meskipun kesakitan dan kematian akibat penyakit menular (PM)semakin menurun, prevalensi penyakit secara umum masih cukup tinggi. Periode 1990-2015, pola kematian akibat PTM semakin meningkat (37% menjadi 57%), akibat PM menurun (56% menjadi 38%) dan akibat kecelakaan akan meningkat (7% menjadi 13%), dan tren ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup (pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, merokok, dll).

Meningkatnya kasus PTM akan menambah beban pemerintah karena penanganannya membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, kasus PTM juga menyebabkan hilangnya potensi/modal sumber daya manusia dan menurunnya produktivitas (productivity loss) yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi. Upaya promotif dan preventif merupakan upaya yang sangat efektif untuk mencegah tingginya kesakitan dan kematian akibat PTM dan PM.

Mengingat pencegahan penyakit sangat tergantung pada perilaku individu yang didukung oleh kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana serta dukungan regulasi untuk hidup sehat, diperlukan keterlibatan aktif secara terus menerus seluruh komponen baik pemerintah pusat dan daerah, sektor nonpemerintah, dan masyarakat. Untuk itu, perlu adanya sebuah gerakan untuk mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Gerakan tersebut dinamakan “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat” (GERMAS).

source. promkes.depkes.go.id/pic. kabarbuton.com

Aksi Simpati Genre – Peringatan Hari Keluarga Nasional XXIV

 

Kamis, tanggal 29 Juni 2017 diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional XXIV. Sebagai bentuk peringatan Harganas, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Madiun menggelar acara Aksi Simpati Genre. Acara dilaksanakan pada tanggal 29 Juni 2017 di Alun-Alun Kota Madiun dan turut dihadiri oleh kader PPKBK, sub PPKBK, perwakilan KKBS-RT dan perwakilan PIK Remaja yang tergabung dalam Genre (Generasi Berencana). Aksi Simpati Genre dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan menyanyikan lagu Mars Keluarga Berencana. Setelah itu dilanjutkan dengan long march dari Alun-Alun Kota Madiun menuju Perempatan Tugu Jalan Panglima Sudirman dengan membawa spanduk Harganas.

Dalam aksi tersebut, turut diikuti oleh sekitar 150 peserta dengan membagikan stiker serta mengampanyekan tentang pentingnya mengembangkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera. Juga meningkatkan pembangunan keluarga kepada masyarakat yang juga pengendara motor yang melintas di sekitar jalanan. Tema yang diambil dalam Harganas XXIV kali ini adalah hari Keluarga Kita Bangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga Berketahanan dengan inti yaitu mewujudkan Keluarga Berketahanan Indonesia Sejahtera.

Para remaja SMP/SMA yang tergabung dalam Genre juga menyosialisasikan program TRIAD KRR yaitu dengan tidak melakukan pernikahan dini, seks pra nikah, tidak mengonsumsi napza dan HIV/AIDS. Tujuan lain dari diadakan acara ini adalah menimalkan jumlah pasangan muda yang menikah dini, bahwa batas usia menikah bagi perempuan adalah 21 tahun dan laki-laki adalah 25 tahun.

Selamat Hari Keluarga Nasional XXIV!

Mari kita ciptakan keluarga berketahanan, mandiri, dan sejahtera. (cherlly-red/photo : tim plkb)