LUNCURKAN KLINIK KRESNA, MASYARAKAT SAMBUT ANTUSIAS

Demi menekan angka ketergantungan rokok pada warga di wilayahnya, sejak Bulan Januari dibuka klinik Upaya Berhenti Merokok (UBM) bernama Kresna di Puskesmas Oro-Oro Ombo. Menurut data pengunjung yang berobat ke Puskesmas Oro-Oro Ombo tiap harinya ada sekitar 10% perokok dengan rentang usia sekolah sampai lanjut usia. Kerugian yang ditimbulkan bukan hanya kepada si perokok, maka edukasi kepada anggota keluarga lain perlu dilakukan mengenai bahaya merokok. Perokok yang memiliki rentang usia sekolah hingga lanjut usia , baik yang masih merokok atau sudah tahap pengurangan batang rokok yang dihisap bisa berkonsultasi dengan konselor.

Klinik UBM Kresna memberikan pelayanan tiap hari Rabu sesuai jam pelayanan dengan konselor yang ramah dan terlatih. Alur pelayanan Klinik UBM Kresna dimulai dari loket, kemudian diperiksa di BP Umum dan atau langsung diarahkan ke Klinik UBM Kresna. Klinik UBM Kresna telah dilengkapi dengan pemeriksaan CO analyzer yang berguna untuk  mengetahui kadar CO (karbon monoksida) atau gas beracun yang tertimbun di dalam paru-parunya. Dengan mengetahui kadar gas beracun dalam paru-parunya diharapkan perokok semakin paham akan bahaya dari rokok. Konselor akan melakukan wawancara dengan perokok untuk mengevaluasi kondisi penderita dan diharapkan penderita untuk kontrol 2 minggu kemudian dari kunjungan pertama.

Merubah kebiasaan merokok bukan hal yang mudah sehingga pentingnya memotivasi keluarga untuk selalu mendukung penderita untuk bisa berhenti merokok. Terima kasih untuk semua pihak yang telah mendukung pelayanan Klinik UBM Kresna. Semoga selalu ramah dan profesional dalam melayani penderita perokok.

Ditulis oleh : dr. Wuri Cana Rosyidah

Cegah Anemia Dengan TTD

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin kurang dari harga normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin (Tabel 1 dan 2). Gejala yaitu lemah, lesu, letih, mudah mengantuk, nafas pendek, nafsu makan berkurang, bibir tampak pucat, susah buang air besar, denyut jantung meningkat, kadang-kadang pusing (Supariasa , 2002).

Berdasarkan Riskesdas Kementerian Kesehatan RI (2013) anemia gizi besi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi pada anak 5-12 tahun sebesar 29%, ibu hamil 37,1%, remaja putri 13-18 tahun sebesar 22,7%.

Untuk menanggulangi dan mengantisipasi masalah anemia tersebut maka Kementerian Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran (SE) Kementrian Kesehatan No. HK.03.03/V/0595/2016 tentang Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri dan Wanita Usia Subur (WUS). Surat Edaran tersebut ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Madiun dengan pencanangan oleh Walikota Madiun, Bapak H. Sugeng Rismiyanto, SH. M.Hum, pada Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53 tanggal 17 Nopember 2017 di Kota Madiun dengan minum bersama Tablet Tambah Darah (TTD) oleh Remaja Putri (SLTP-SLTA) seminggu sekali satu tablet yaitu setiap hari selasa di sekolah.

Untuk wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo, pemberian TTD untuk WUS baru terbatas kepada ibu guru SLTP-SLTA yang diharapkan ikut minum bersama dengan para siswinya di setiap Hari Selasa. Sementara untuk WUS lainnya guna pencegahan anemia diharapkan minum TTD secara mandiri.

Ditulis oleh : Oleh : Deddi Haryono, SKM., M.Gz