DIFTERI, ANCAMAN BAGI KELUARGA ANDA

 

Akhir Tahun 2017 lalu, Indonesia dikejutkan dengan penemuan kasus Difteri di Jawa Barat dan Ibukota. Menyebarluasnya penyakit Difteri di berbagai wilayah di Indonesia membuat Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, untuk menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang menyerang 95 kabupaten/kota di 20 provinsi.

Penetapan KLB berlanjut pada penetapan upaya penanggulangan segera oleh Nina Moeloek dalam memutuskan penularan, menurunkan jumlah kasus Difteri dan mencegah agar penyakit tersebut tidak semakin meluas melalui tindakan Outbreak Response Immunization (ORI). Tindakan ORI ini menyasar kelompok usia 1 sampai kurang dari 19 tahun dengan menggunakan vaksin yang mengandung Difteri yang disediakan oleh Pemerintah.

Outbreak Response Immunization (ORI) adalah kegiatan imunisasi tambahan yang khusus dilakukan di daerah yang mengalami KLB, sebanyak tiga putaran dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Imunisasi DPT-HB-Hib untuk anak usia < 5 tahun
  • Imunisai DT untuk anak usia 5 sampai < 7 tahun
  • Imunisasi TD untuk anak usia > 7 tahun

Perlu diketahui, Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae dan ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung, dan juga kulit. Penyakit Difteri sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian.

Biasanya, penularan Penyakit Difteri dari manusia ke manusia melalui percikan ludah yang keluar saat batuk atau bersin, kontak langsung dengan permukaan kulit atau luka terbuka, dan kontak dengan benda yang terkena kuman Difteri. Penyakit Difteri dapat menular kepada semua kelompok umur terutama anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Gejala Difteri diantaranya adalah demam kurang lebih 38°C, adanya selaput berwarna putih di tenggorokan, hidung berair, bengkak di area leher, nyeri saat menelan dan kesulitan bernapas

 

 

PELAKSANAAN ORI DIFTERI DI KOTA MADIUN

Berdasarkan Surat Resmi dari Kementrian Kesehatan perihal Permohonan Dukungan terhadap Pelaksanaan ORI Difteri Tahun 2017 dan 2018, Kota Madiun masuk ke dalam 87 kabupaten/kota yang mendapatkan Outbreak Response Immunization (ORI). Puskesmas Oro-Oro Ombo melaksanakan kegiatan ORI Difteri terhitung mulai tanggal 5 Februari hingga 2 Maret 2018 untuk interval pertama. Interval bulan yang digunakan dalam ORI Difteri Kota Madiun adalah 0-5-5.

Kegiatan ORI Difteri dilaksanakan di posyandu balita, TK/PAUD, SD, Madrasah, SMP, dan SMA kelompok usia 1 sampai kurang dari 19 tahun, dengan cakupan sebanyak 41 TK/PAUD, 17 SD, 3 SMP, 12 SMA/SMK, dan 39 Posyandu Balita di wilayah kerja Puskesmas Oro-Oro Ombo. Program ORI Difteri yang telah berlangsung ini diharapkan dapat memutus rantai penyebaran Penyakit Difteri di Kota Madiun.

Mari kita bebaskan Kota Madiun dari penularan penyakit Difteri! (Cherlly)