PRO DAN KONTRA VAKSIN COVID-19

Sudah 10 bulan lebih Indonesia mengalami pandemi Covid-19, pemerintah Indonesia terus berupaya untuk menyelesaikan permasalahan pandemi ini dari mulai edukasi protokol kesehatan,  pemberlakuan PSBB hingga yang terakhir pada tanggal 6 desember 2020 Indonesia  mengimpor Vaksin Sinovac tahap pertama dari China dan akan dilanjutkan dengan proses mendapatkan izin penggunaan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Hingga saat ini pemberian Vaksin Covid-19 masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Dikarenakan masyarakat masih mempertanyakan keamanan dan keefektivitas dari Vaksin Sinovac tersebut. Memang sampai saat ini belum ada hasil uji klinis fase III dari Vaksin Sinovac, dilakukannya uji klinis fase ke III untuk menentukan apakah vaksin tersebut mengurangi risiko seseorang terkena gejala Covid-19. Dikarenakan belum ada data mengenai efikasi dan keamanan skala besar pada pemberian Vaksin Sinovac, jadi lebih baik tidak usah berspekulasi dahulu mengenai keamanan dan efektivitas Vaksin Sinovac sebelum hasil klinisnya keluar. Sehingga pemberian Vaksin Sinovac baru akan diberikan kepada masyarakat Indonesia setelah mendapatkan persetujuan dari regulator BPOM berdasarkan kepada hasil uji klinis vaksin di Indonesia maupun luar negeri.

Ada benarnya apabila masyarakat mengkhawatirkan tentang efek vaksin karena memang terdapat efeknya akan tetapi hanya sementara. Efek samping akibat Vaksin Covid-19 dapat berbeda antar orang dan antar vaksin  yang diberikan. Secara umum, efek samping yang muncul bersifat ringan dan sementara, serta tidak selalu ada. Efek samping pada Vaksin Sinovac mayoritas ringan dan hilang dalam 48 jam antara lain: nyeri pada lokasi suntikan, demam, lelah, nyeri otot dll. Kelompok orang dan usia yang boleh diberikan vaksin Covid-19 sesuai dengan kelompok orang yang menjadi peserta uji klinis vaksin tersebut dan keputusan regulator. Hingga saat ini uji klinis vaksin Covid-19 untuk anak-anak masih direncanakan atau belum selesai dan terdapat beberapa vaksin Covid-19 yang bisa diberikan pada orang berusia > 60 tahun dan punya komorbid tertentu. Beberapa vaksin menunjukkan kadar antibodi yang lebih tinggi dibandingkan infeksi alami, sehingga muncul dugaan bahwa kekebalan bisa bertahan lebih lama pada vaksin sedangkan kekebalan akibat infeksi alami bisa bervariasi antar orang dan beberapa studi menunjukkan bahwa kekebalan pada Covid-19 tidak bertahan cukup lama. Hingga saat ini belum diketahui pasti lama kekebalan terhadap Covid-19 karena vaksin dan karena infeksi alami.

Oleh : dr. Ratih Kumala Sari

Editor : Aulia Mutiara R.