ADAPTASI KEBIASAAN BARU, PELAKSANAAN SURVEY HAJATAN ERA PANDEMI

Untuk memastikan kesesuaian antara pemaparan protokol kesehatan yang tertulis dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan maka tim gugus Kecamatan melakukan survey hajatan secara langsung. Tim gugus kecamatan, khususnya Kecamatan Kartoharjo merupakan gabungan dari beberapa lintas sektor diantaranya kecamatan, kelurahan, babinsa, babinkamtibnas, serta puskesmas. Tim inilah yang menilai secara langsung apakah suatu hajatan mendapatkan rekomendasi untuk digelar atau tidak.

Indonesia telah memasuki era new normal di tengah pandemi Covid-19 yang telah melanda sejak awal tahun 2020. Kegiatan yang semula dapat dilakukan seperti biasa, saat ini harus selalu diikuti dengan protokol kesehatan yang ketat atau istilah barunya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Hal ini berlaku juga di Kota Madiun. Pemerintah Kota Madiun telah mengijinkan bagi warga yang akan menggelar hajatan pernikahan namun dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Warga yang akan menggelar hajatan harus mengajukan ijin terlebih dahulu ke tim gugus Kota Madiun dan memaparkan protokol kesehatan yang diterapkan dalam kegiatan hajatan secara tertulis.

Adapun yang perlu disiapkan oleh penggelar hajatan meliputi kesesuaian jumlah tamu undangan dengan tempat dan waktu acara. Jumlah tamu undangan di masa pandemi ditentukan maksimal 50% dari kapasitas yang sebenarnya. Apabila diperlukan bisa juga diberlakukan pembagian waktu. Tujuannya agar tamu undangan yang hadir tidak berjubel, sehingga penerapan physical distancing tetap terpenuhi. Selain itu, skema protokol kesehatannya (ketersediaan masker cadangan, tempat cuci tangan, hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh, tempat sampah, penyemprotan desinfektan, dan sebagainya) juga wajib diperhatikan.

Penggelar hajatan wajib membentuk tim pendekar waras minimal 10% dari jumlah tamu undangan. Tim pendekar waras inilah yang bertugas sebagai pengawas dan pelaksana dalam menerapkan protokol kesehatan saat hajatan berlangsung. Hal lain yang krusial adalah pengaturan tempat makan, semi prasmanan dan/atau nasi kotak. Apabila dalam bentuk nasi kotak alangkah lebih baiknya. Namun tidak menutup kemungkinan dengan semi prasmanan, oleh karena itu harus ada penyaji makanan yang menata menunya sehingga tamu undangan tidak banyak menyentuh alat makan secara bergantian.

Harapannya, dengan adanya survey hajatan ini penerapan protokol kesehatan selama hajatan berlangsung dapat terpenuhi sehingga tidak muncul kluster baru Covid-19 akibat pelaksanaan hajatan.

Oleh : Shita Addina