Vaksin Astrazeneca, Amankah?

Sudah lebih dari satu tahun pandemi COVID-19 berlangsung di Indonesia. Pandemi ini tidak hanya berimbas pada bidang kesehatan, namun juga berimbas pada bidang pendidikan, ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, pemerintah telah mencanangkan program vaksinasi Covid yang pertama kali dilakukan pada tanggal 13 januari 2021. Program vaksinasi ini dilakukan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity) sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19, dan masyarakat kembali produktif secara sosial dan ekonomi seperti sedia kala.

Hingga saat ini,  vaksinasi COVID-19 sudah masuk tahap ke 2 dengan sasaran pekerja yang berinteraksi dengan banyak orang seperti pedagang, pendidik, pejabat pemerintah, POLRI, TNI dan lain-lain serta  lansia usia 60 tahun ke atas. Jenis vaksin yang dipakai di Indonesia sampai saat ini adalah Sinovac dan Astrazeneca yang sudah mulai digunakan di beberapa daerah di Indonesia.

Vaksin AstraZeneca, apakah aman?” Mungkin itulah pertanyaan yang sering muncul di masyarakat terkait adanya pemberitaan mengenai kejadian KIPI berupa pembekuan darah setelah mendapatkan vaksin AstraZeneca di Inggris. Bagaimana faktanya?

Terkait dengan tersedianya vaksin Astrazeneca, Kementrian Kesehatan telah menerbitkan surat edaran mengenai vaksin astrazeneca. Dalam surat edaran itu dijelaskan bahwa Vaksin COVID-19 AstraZeneca adalah vaksin yang mengandung virus flu biasa yang telah dimodifikasi sehingga tidak dapat berkembang di dalam tubuh manusia, tetapi dapat menimbulkan respon kekebalan terhadap COVID-19. Sehingga, apabila kita terpapar virus covid-19 maka tubuh sudah punya senjata untuk melawannya dan virus tidak berhasil menginfeksi tubuh kita.

BPOM telah menerbitkan Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin AstraZeneca pada tanggal 22 Februari 2021 dengan nomor EUA2158100143A1. Sehingga dalam hal ini BPOM telah menjamin bahwa vaksin AstraZeneca aman dan berkualitas Seangkan terkait kehalalan vaksin AstraZeneca, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan Fatwa MUI No. 14 tahun 2021. Berdasarkan fatwa tersebut, memang benar dalam proses pembuatan vaksin AstraZeneca menggunakan tripsin dari babi. Meski demikian, penggunaan vaksin AstraZeneca bersifat mubah (diperbolehkan) dengan alasan darurat.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) tetap saja bisa terjadi. KIPI yang muncul umumnya bersifat ringan seperti pusing, mual, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), nyeri di tempat suntikan, kelelahan, malaise, dan demam. Namun, jika keluhan ini tidak kunjung membaik dalam beberapa hari, segera lapor & konsultasikan dengan tenaga keseahatan atau fasilitas pelayanan kesehatan.

Terkait dengan kejadian pembekuan darah di Inggris, European Medicines Agency mengatakan bahwa kejadian tersebut adalah kejadian yang sangat langka. Di antara 25 juta warga di UK (United Kingdom) dan EEA (European Economic Area) yang mendapat vaksin AstraZeneca, 86 orang diantaranya mengalami kejadian pembekuan darah ini. Meskipun kejadian ini langka, penerima vaksin AstraZeneca harus tetap berhati-hati apabila mengalami sesak nafas, nyeri dada,bengkak di salah satu kaki, nyeri perut yang terus-menerus, nyeri kepala hebat dan pandangan kabur serta adanya titik perdarahan di sekitar area penyuntikan vaksin maka harus segera meminta pertolongan ke tenaga kesehatan.

Jadi, untuk calon penerima vaksin jangan ragu untuk datang ke fasilitas kesehatan jika sudah mendapat pemberitahuan vaksinasi. Hal terpenting sebelum dilakukan vaksinasi adalah tetap mengkonsumsi obat sesuai resep dari dokter jika mempunyai penyekit penyerta, memberikan keterangan yang jujur saat dilakukan screening, dan setelah dilakukan vaksinasi tetap patuhi protokol kesehatan. Karena vaksinasi COVID-19 tidak menjamin 100%  seseorangtidak akan terinfeksi virus COVID-19. Tetap Pakai masker dengan benar, cuci tangan dan jaga jarak!

Oleh : dr. Ranti Agustin

Editor : Nur Risca Azizah, S.KM