Penggunaan Garam dan Gula Pada MPASI Bayi

 

Ketika Bunda melihat anak tidak mau makan, pasti kesimpulannya sama yaitu rasa makanannya hambar. Hal itulah yang kemudian menyebabkan Bunda menambahkan garam dan gula dalam MPASI anak. Sebaiknya anak tidak diberikan gula dan garam sebelum usia 1 tahun. Bayi tidak mengenal rasa hambar karena mereka baru mengenal definisi rasa mulai MPASI. Biasakan beri makanan dengan rasa alami untuk anak, kecuali jika anak mulai susah alias GTM (Gerakan Tutup Mulut). Biasanya ini terjadi pada bayi yang berumur 7-9 bulan. Umumnya dokter anak menyarakan pemberian gula dan garam agar anak mau makan dengan lahap. Ini boleh dilakukan, tapi sebaiknya jumlahnya sedikit saja.

Tahukah Bunda mengapa tidak boleh diberikan GARAM pada bayi usia dibawah 1 tahun?

Karena kebutuhan garam bayi sedikit sekali, kurang dari 1 gram per hari (0,4 g sodium). Ini bisa dipenuhi dari konsumsi ASI dan susu formula yang diberikan.

Berikut kebutuhan gula dan garam untuk anak :

 0-12 bulan : kurang dari 1 gr(0,4g sodium)

 1-3 tahun : 2 gr (0,8g sodium)

 4-6 tahun : 3 gr (1,2g sodium)

 7-10 tahun : 5 gr ( 2g sodium)

Terlalu banyak penggunaan garam bisa membebani kerja ginjal bayi yang belum sempurna. Ini bisa berujung pada masalah ginjal dan terbukti memicu hipertensi saat anak besar nanti.Agar MPASI buah hati makin sedap, gunakan penambah rasa alami seperti kunyit, cinnamon, bawnag putih, mentega, daun mint, seledri, dan lain-lain.

Tahukah Bunda mengapa tidak boleh diberikan GULA pada bayi usia dibawah 1 tahun?

• Terlalu banyak konsumsi gula mengakibatkan kerusakan gigi, menurunkan imunitas tubuh dan membuat anak mengalami masalah jantung, diabetes, obesitas saat mereka besar nanti.

• Daripada menggunakan gula pasir lebih baik menggantinya dengan sumber gula alami, misal buah manis atau madu khusus anak di atas 1 tahun.

Jadi penggunaan garam dan gula untuk anak usia di bawah 1 tahun tidak diperlukan ya, Bunda. Semoga artikel ini bermanfaat.

Cr. Ibupedia/Cr. Pic. https://healclinics.com

Kementerian Kesehatan terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan mendeteksi dini penyakit. Seperti diakhir Bulan Maret ini, tepatnya 24 Maret diperingati sebagai Hari TB Sedunia.

Tahun ini, Kemenkes melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PL) menghimbau kepada setiap masyarakat didaerah untuk aktif dalam program penanggulangan TB, karena target pemerintah untuk eliminasi TB pada tahun 2035. “Kalau tinggal menunggu pasien datang berobat maka tidak akan selesai. Harus ada kesadaran untuk melaporkan, dan salah satu caranya dengan melalui pendekatan keluarga. Peran keluarga disini sangat penting untuk melaporkan jika ada anggota keluarganya yang mengalami batuk berlangsung lama,” kata Dirjen P2PL Kemenkes Mohamad Subuh dalam temu media, Kamis 23 Maret 2017 di Kantor Kemenkes, Jakarta. Saat ini kinerja penanggulangan TB di Indonesia pada tahun 2015 ditemukan insidensi sebanyak 1.020.000 kasus, artinya 395 per 100 ribu penduduk. Sebanyak 330.729 kasus positif TB yang bisa dideteksi dengan angka keberhasilan pengobatan mencapai 84 persen. “Angka ini masih jauh dari harapan kita yang menargetkan diatas 90 persen,” ujar Subuh. Untuk lebih menemukan kasus TB yang belum terekspose, Kemenkes melakukan program baru yang diberi nama ketuk pintu “TOSS” (Temukan Obati Sampai Sembuh).

“Program ketuk pintu ini baru berjalan sekira 2 minggu dan sudah ada 120 ribu laporan yang masuk dan 600 orang ternyata positif TB. Jadi inilah keuntungan dengan adanya program ketuk pintu melalui pendekatan keluarga,” tuturnya. Dikatakan Mohamad Subuh kalau jumlah penderita TB justru lebih banyak ditemukan di kota-kota besar di Indonesia. Hal tersebut tentunya dipengaruhi salah satunya faktor lingkungan yang tidak sehat. “Kalau di kota besarkan banyak lingkungan kumuh, sanitasi tidak sehat. Berbeda dengan pedesaan yang udaranya lebih sehat dan bersih,” sebutnya. Untuk mencontoh kota besar yang ramah lingkungan, bisa meniru dari apa yang telah dilakukan pemerintah Kota Makassar, dengan menggalakan adanya lorong sehat. “Waktu saya ke Makassar, saya merasa surprise adanya lorong sehat. Selain bersih dan hijau juga warganya didata berapa orang yang terkena TB dan dilakukan pengontrolan minum obat. Kalau di Jakarta belum ada saya liat yang begini. Kalau di Surabaya baru ada lorong hijau,” terangnya.

Sumber : http://fajar.co.id/2017/03/23/eliminasi-tb-dengan-ketuk-pintu-toss/

Peresmian Gedung Baru Puskesmas Oro-Oro Ombo Kota Madiun

 

Tanggal 19 Mei 2017 dilaksanakan Peresmian Gedung Baru Puskesmas Oro-Oro Ombo oleh Wakil Walikota Madiun, Bapak H. Sugeng Rismiyanto, SH.M.Hum. Acara yang dimulai pada pukul 07.30 WIB turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Madiun, Ketua DPRD Kota Madiun, Kepala UPD, Kepala Dinkes & KB, Kepala Puskesmas dan tamu undangan.

Acara diawali dengan sambutan Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana kemudian dilanjut dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti oleh Wakil Walikota Madiun pada pukul 08.00 WIB.

Gedung Baru Puskesmas Oro-Oro Ombo mulai dibangun pada pertengahan tahun 2016 dengan menggunakan anggaran APBD dan merupakan pembangunan tahap awal. Rencana pada tahun 2018 nanti akan dibangun lagi untuk tahap kedua. Saat kunjungannya ke gedung baru, Ketua DPRD Kota Madiun, Bapak Istono juga mencoba pelayanan di poli gigi.

Diharapkan dengan dibangunnya gedung baru, Puskesmas Oro-Oro Ombo dapat memberikan pelayanan kesehatan lebih baik lagi kepada masyarakat. (Cherlly-red / photo : admin)