Sosialisasi Imunisasi MR

 

 

Dalam rangka menyukseskan program pemerintah yaitu Kampanye Nasional Imunisasi MR di seluruh wilayah Pulau Jawa, UPTD Puskesmas Oro-Oro Ombo melakukan bebrapa kali pertemuan dalam rangka sosialisasi kegiatan tersebut. Sosialisasi ini telah dilaksanakan pada minggu ketiga bulan Juli secara berkelanjutan. Pada tanggal 17 Juli 2017 dilaksanakan sosialisasi kepada seluruh guru PAUD di wilayah kerja puskesmas, tanggal 19 Juli 2017 kepada seluruh kader posyandu balitawilayah kerja puskesmas dan tanggal 20 Juli 2017 kepada perwakilan guru SD dan SMP di wilayah kerja puskesmas.

 

 

Selain dilakukan sosialisasi imunisasi MR oleh dokter, juga diberikan informasi bahwa pemberian obat kecacingan bagi PAUD/TK dilaksanakan di minggu keempat bulan Juli dan di posyandu balita dilaksanakan di bulan Agustus 2017.

Mari sukseskan Imunisasi MR, agar Indonesia lebih sehat! (devi/red)

Aplikasi Pokentik

Mari kita budayakan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dengan menggunakan aplikasi Pokentik!

Inilah seruan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), dalam sebuah video berdurasi lebih kurang 2 menit yang ditayangkan pada peringatan Asean Dengue Day (ADD) di SDN Baru 07 Cijantung, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa siang (2/8). Berawal dari inisiatif pribadi dua orang generasi muda yang merupakan sanitarian di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pencegahan Penyakit Palembang, Idan Awaludin dan Fison Hepimen, berhasil menuangkan ide dan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat yang kini diwujudkan dalam sebuah aplikasi sederhana bernama Pokentik yang merupakan akronim dari Kelompok Pemantau Jentik.

Pokentik merupakan aplikasi smartphone berbasis android yang dibuat untuk membantu masyarakat mengenal sekaligus membudayakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang merupakan upaya paling murah dan efektif dalam mencegah penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), Malaria, bahkan Zika. “Tujuan awalnya, lahirnya aplikasi Pokentik ini masyarakat yang sebelumnya tidak peduli dengan bahayanya jentik jadi lebih peduli, jadi lebih aware, jadi lebih rajin lagi bersihkan lingkungan sekitar”, terang Fison Hepimen.

Harapannya, kehadiran aplikasi Pokentik mampu mengubah mindset masyarakat bahwa yang masyarakat yang berhasil menemukan jentik adalah penyelamat. Berhasil mencegah satu jentik menetas menjadi seekor nyamuk, berarti menghilangkan satu risiko bagi keluarga tertular penyakit demam berdarah ataupun penyakit vektor nyamuk lainnya seperti malaria ataupun Zika. Ditambahkan oleh Idan Awaludin, bahwa aplikasi Pokentik ini selain ingin membudayakan digital movement di bidang kesehatan, kami juga menginginkan aplikasi yang tidak hanya sekedar memudahkan input data, namun juga memiliki spirit  movement untuk mengajak masyarakat membudayakan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (juru pemantau jentik) melalui PSN 3M Plus. Saat ini, sosialisasi aplikasi Pokentik sudah dilaksanakan di tiga wilayah kerja BTKL Palembang utamanya kepada para juru pemantau jentik (Jumantik) di 3 wilayah kerja Puskesmas, yaitu: Puskesmas Sukaramai, Puskesmas Alang-Alang Lebar, dan Puskesmas Talang Betutu. Diharapkan aplikasi ini dapat digunakan oleh para Jumantik untuk memudahkan pencatatan.

Sejak dirilis pada akhir tahun 2016 lalu, sempat ribuan orang mengunduh dan mencoba aplikasi tersebut. Namun saat ini, lebih kurang 500 pengunduh yang masih aktif menggunakan dan tergabung di dalam fanspage Pokentik. Aplikasi tersebut masih terus akan dikembangkan agar dapat dijalankan di iOs dan pengembangan fitur lainnya. “Pengembangan aplikasi ini, ide dan design memang dari kami berdua. Bahasa pencegahan kami paham, namun terkait coding dan bahasa pemrograman kami perlu dibantu. Perlu kolaborasi antara bidang kesehatan dengan bidang teknologi informatika dalam pengembangannya ke depan”, tandas Idan.

(Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian kesehatan RI)

GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat)

Pembangunan Kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemamuan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Indonesia saat ini mengalami transisi epidemiologi yang ditandai dengan meningkatnya kematian dan kesakitan akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, jantung, diabetes dan lain-lain.

Meskipun kesakitan dan kematian akibat penyakit menular (PM)semakin menurun, prevalensi penyakit secara umum masih cukup tinggi. Periode 1990-2015, pola kematian akibat PTM semakin meningkat (37% menjadi 57%), akibat PM menurun (56% menjadi 38%) dan akibat kecelakaan akan meningkat (7% menjadi 13%), dan tren ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup (pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, merokok, dll).

Meningkatnya kasus PTM akan menambah beban pemerintah karena penanganannya membutuhkan biaya yang besar. Selain itu, kasus PTM juga menyebabkan hilangnya potensi/modal sumber daya manusia dan menurunnya produktivitas (productivity loss) yang pada akhirnya akan mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi. Upaya promotif dan preventif merupakan upaya yang sangat efektif untuk mencegah tingginya kesakitan dan kematian akibat PTM dan PM.

Mengingat pencegahan penyakit sangat tergantung pada perilaku individu yang didukung oleh kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana serta dukungan regulasi untuk hidup sehat, diperlukan keterlibatan aktif secara terus menerus seluruh komponen baik pemerintah pusat dan daerah, sektor nonpemerintah, dan masyarakat. Untuk itu, perlu adanya sebuah gerakan untuk mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Gerakan tersebut dinamakan “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat” (GERMAS).

source. promkes.depkes.go.id/pic. kabarbuton.com

Aksi Simpati Genre – Peringatan Hari Keluarga Nasional XXIV

 

Kamis, tanggal 29 Juni 2017 diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional XXIV. Sebagai bentuk peringatan Harganas, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kota Madiun menggelar acara Aksi Simpati Genre. Acara dilaksanakan pada tanggal 29 Juni 2017 di Alun-Alun Kota Madiun dan turut dihadiri oleh kader PPKBK, sub PPKBK, perwakilan KKBS-RT dan perwakilan PIK Remaja yang tergabung dalam Genre (Generasi Berencana). Aksi Simpati Genre dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan menyanyikan lagu Mars Keluarga Berencana. Setelah itu dilanjutkan dengan long march dari Alun-Alun Kota Madiun menuju Perempatan Tugu Jalan Panglima Sudirman dengan membawa spanduk Harganas.

Dalam aksi tersebut, turut diikuti oleh sekitar 150 peserta dengan membagikan stiker serta mengampanyekan tentang pentingnya mengembangkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera. Juga meningkatkan pembangunan keluarga kepada masyarakat yang juga pengendara motor yang melintas di sekitar jalanan. Tema yang diambil dalam Harganas XXIV kali ini adalah hari Keluarga Kita Bangun Karakter Bangsa Melalui Keluarga Berketahanan dengan inti yaitu mewujudkan Keluarga Berketahanan Indonesia Sejahtera.

Para remaja SMP/SMA yang tergabung dalam Genre juga menyosialisasikan program TRIAD KRR yaitu dengan tidak melakukan pernikahan dini, seks pra nikah, tidak mengonsumsi napza dan HIV/AIDS. Tujuan lain dari diadakan acara ini adalah menimalkan jumlah pasangan muda yang menikah dini, bahwa batas usia menikah bagi perempuan adalah 21 tahun dan laki-laki adalah 25 tahun.

Selamat Hari Keluarga Nasional XXIV!

Mari kita ciptakan keluarga berketahanan, mandiri, dan sejahtera. (cherlly-red/photo : tim plkb)

Penilaian PUSTU Berprestasi Tingkat Kota

 

Mulai pada tanggal 19 Juni 2017 kemarin dilakukan penilaian PUSTU (Puskesmas Pembantu) Berprestasi Tingkat Kota Madiun di beberapa Pustu yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas di Kota Madiun. Pustu Klegen yang beralamatkan di Jalan Pendowo Kelurahan Klegen mewakili UPTD Puskesmas Oro-Oro Ombo dalam penilaian Pustu Berprestasi. Penilaian telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Madiun pada tanggal 20 Juni 2017 dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.

Penilaian Pustu Berprestasi melingkupi berbagai program kesehatan yang ada di Puskesmas Oro-Oro Ombo terutama di wilayah Kelurahan Klegen, meliputi Program TB, KIA, Kesling, Promkes, UKBM, Gizi dan lain-lain. Penilaian ini diharapkan dapat memacu antar Pustu yang berkompetisi menjadi Pustu yang terbaik yang bisa mewakili Kota Madiun keTingkat Provinsi. (Devi/red)

Program Kakek Nenek Asuh

Kami para usia lanjut seluruh Indonesia

Mau tetap berdaya guna bagi diri dan kluarga

Tingkatkan hubungan sosial di dalam masyarakat

Bertaqwa kepada Tuhan yang melimpahkan Rahmat

Priksa kesehatan mencegah penyakit datang

Dan kembangkan hobby sesuai kemampuan

Badan sehat jiwa kuat sambut masa yang kan datang

Mutu hidup pun meningkat masa tua bahagia

Kami para usia lanjut seluruh Indonesia

Mau tetap berdaya guna bagi diri dan kluarga

Tingkatkan hubungan sosial di dalam masyarakat

Bertaqwa kepada Tuhan yang melimpahkan Rahmat

Priksa kesehatan mencegah penyakit datang

Dan kembangkan hobby sesuai kemampuan

Badan sehat jiwa kuat sambut masa yang kan datang

Mutu hidup pun meningkat masa tua bahagia

Lantunan koor lagu “Masa Tua Bahagia”, serempak datang dari kediaman Ibu Sri Mulyani di Jalan Sri Wibowo No. 58 Kelurahan Sukosari Kota Madiun. Sekelompok lansia yang tergabung dalam Paguyuban Kakek Nenek Asuh “Setyaki” Kelurahan Sukosari sedang melaksanakan pertemuan  rutin yang sudah berjalan sekitar dua tahun. Lansia yang berusia 50 tahun ke atas tampak semangat menyanyikan lagu tersebut yang menjadi lagu pembukaan acara pertemuan pada hari itu.

Paguyuban Kakek Nenek Asuh beranggotakan lansia yang tergabung di Posyandu Lansia Setyaki RT.13 Kelurahan Sukosari. Dalam pertemuan tiap tiga bulannya, lansia akan mendapatkan penyuluhan kesehatan oleh dokter puskesmas. Dan pada kesempatan kali itu, dr. Mutia selaku dokter interenship di Puskesmas Oro-Oro Ombo mengisi materi tentang Kesehatan Ibu dan Balita.

Kakek Nenek Asuh merupakan program inovasi dari Dinas Kesehatan Kota Madiun yang kemudian dilakukan oleh 6 puskesmas di Kota Madiun, meliputi Puskesmas Banjarejo, Puskesmas Demangan, Puskesmas Manguharjo, Puskesmas Oro-Oro Ombo, Puskesmas Patihan, dan Puskesmas Tawangrejo. Program ini bertujuan menurunkan angka kematian ibu, angka kematian bayi, dan angka kematian balita dengan memberikan pengetahuan serta informasi kesehatan kepada kakek dan nenek agar mereka mendampingi ibu hamil dan ibu bayi dan balita.

Dengan berjalannya kegiatan inovasi ini diharapkan kakek dan nenek selaku orang tua dapat memberikan informasi kesehatan secara benar kepada ibu muda, seperti ibu hamil dan ibu bayi dan balita. Dalam penyampaian materi pada hari itu Dr. Mutia juga menyampaikan agar kakek dan nenek terus mendampingi dan memantau kesehatan serta status gizi ibu hamil agar jika terdapat ibu hamil yang status gizinya buruk atau kurang agar segera dilaporkan kepada petugas puskesmas. (cherly-red/Photo-admin)

 

TB atau Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri micro tuberculosis yang dapat menular melalui percikan dahak. Tuberkulosis bukan penyakit keturunan atau kutukan dan dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur, diawasi oleh Pengawasan Minum Obat (PMO). Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB. Sebagian besar kuman TB menyerang paru tetapi bisa juga organ tubuh lainnya.

Ketahuilah bahwa Tuberkulosis :

  1. Gejala awal penyakit Tuberkulosis (TB) tidak spesifik, umumnya adalah batuk produktif yang berkepanjangan (>3 minggu), sesak nafas, nyeri dada, anemia/kurang darah, batuk darah, rasa lelah, berkeringat di malam hari.
  2. TB mudah menular melalui udara yang tercemar oleh bakteri micro bacterium tuberculosa yang dilepaskan pada saat penderita TB paru batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TB paru dewasa.
  3. Penyakit TB dapat disembuhkan secara tuntas dengan minum obat secara rutin dan teratur, minimal selama 6 bulan dibantu oleh Pengawasan Minum Obat (PMO).
  4. Imunisasi BCG adalah salah satu alterbnatif pencegahan TB.
  5. Segera lakukan pencegahan penularan penyakit TB bila telah terdiagnosa.

Ada beberapa tips untuk membantu menjaga dan pencegahan penyakit TB kepada teman dan keluarga dari infeksi kuman :

  1. Tinggal di rumah. Jangan pergi kerja atau sekolah atau tidur di kamar dengan orang lain selama beberapa minggu pertama pengobatan untuk TB aktif
  2. Ventilasi ruangan. Kuman TB menyebar lebih mudah dalam ruangan tertutup kecil di mana udara tidak bergerak. Jika ventilasi ruangan masih kurang, buka jendela dan gunakan kipas untuk meniup udara dalam ruangan ke luar.
  3. Tutup mulut mengunakan masker. Gunakan masker untuk menutup mulut kapan saja ini merupakan langkah pencegahan TB secara efektif. Jangan lupa untuk membuang masker secara teratur.
  4. Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberikan desinfektan (air sabun).
  5. Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan
  6. Hindari udara dingin.
  7. Usahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur.
  8. Menjemur kasur, bantal, dan tempat tidur terutama pagi hari.
  9. Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak boleh digunakan oleh orang lain.
  10. Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein.

 

source. promkes.depkes.go.id/Pic. www.emaze.com

Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albocpictus. Di Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. Gejala yang akan muncul seperti ditandai dengan demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mual dan menifestasi perdarahan seperti mimisan atau gusi berdarah serta adanya kemerahan di bagian permukaan tubuh pada penderita.

Pada umumnya penderita DBD (Demam Berdarah Dengue) akan mengalami fase demam selama 2-7 hari, fase pertama: 1-3 hari ini penderita akan merasakan demam yang cukup tinggi 400C, kemudian pada fase ke-dua penderita mengalami fase kritis pada hari ke 4-5, pada fase ini penderita akan mengalami turunnya demam hingga 370C dan penderita akan merasa dapat melakukan aktivitas kembali (merasa sembuh kembali) pada fase ini jika tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat dapat terjadi keadaan fatal, akan terjadi penurunan trombosit secara drastis akibat pemecahan pembuluh darah (pendarahan). Di fase yang ketiga ini akan terjadi pada hari ke 6-7 ini, penderita akan merasakan demam kembali, fase ini dinamakan fase pemulihan, di fase inilah trombosit akan perlahan naik kembali normal kembali.

Sampai saai ini BD masih menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurang usia harapan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurangnya usia harapan hidup msyarakat. Dampak ekonomi langsung adalah biaya pengobatan yang cukup mahal, sedangkan dampak tidak langsung adalah kehilangan waktu kerja dan biaya lain yang dikeluarkan selain pengobatan seperti transportasi dan akomodasi selama perawatan sakit.

 Mengingat obat untuk membunuh virus Dengue hingga saat ini belum ditemukan dan vaksin untuk mencegah DBD masih dalam tahap ujicoba, maka cara yang dapat dilakukan sampai saat ini adalah dengan memberantas nyamuk penular (vektor). Pemberantasan vektor ini dapat dilakukan pada saat masih berupa jentik atau nyamuk dewasa.

 Apa yang harus anda ketahui agar dapat mencegah DBD :

  1. DBD adalah penyakit menular yang ditandai dengan panas (demam) disertai pendarahan yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti  yang hidup di dalam dan di sekitar rumah.
  2. Kenali gejala/tanda awal dan lanjut DBD dan segera lakukan pertolongan
  3. Ketahui siklus nyamuk Aedes Aegypti
  4. Ketahui cara berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti
  5. Cegah penularan DBD dengan memutus rantai penularan DBD
  6. Membentuk Jumantik (Juru Pemantau Jentik) terbukti berhasil menurunkan jumlah kasus DBD

Source. promkes.depkes.go.id/Pic. medicastore.com

Penggunaan Garam dan Gula Pada MPASI Bayi

 

Ketika Bunda melihat anak tidak mau makan, pasti kesimpulannya sama yaitu rasa makanannya hambar. Hal itulah yang kemudian menyebabkan Bunda menambahkan garam dan gula dalam MPASI anak. Sebaiknya anak tidak diberikan gula dan garam sebelum usia 1 tahun. Bayi tidak mengenal rasa hambar karena mereka baru mengenal definisi rasa mulai MPASI. Biasakan beri makanan dengan rasa alami untuk anak, kecuali jika anak mulai susah alias GTM (Gerakan Tutup Mulut). Biasanya ini terjadi pada bayi yang berumur 7-9 bulan. Umumnya dokter anak menyarakan pemberian gula dan garam agar anak mau makan dengan lahap. Ini boleh dilakukan, tapi sebaiknya jumlahnya sedikit saja.

Tahukah Bunda mengapa tidak boleh diberikan GARAM pada bayi usia dibawah 1 tahun?

Karena kebutuhan garam bayi sedikit sekali, kurang dari 1 gram per hari (0,4 g sodium). Ini bisa dipenuhi dari konsumsi ASI dan susu formula yang diberikan.

Berikut kebutuhan gula dan garam untuk anak :

 0-12 bulan : kurang dari 1 gr(0,4g sodium)

 1-3 tahun : 2 gr (0,8g sodium)

 4-6 tahun : 3 gr (1,2g sodium)

 7-10 tahun : 5 gr ( 2g sodium)

Terlalu banyak penggunaan garam bisa membebani kerja ginjal bayi yang belum sempurna. Ini bisa berujung pada masalah ginjal dan terbukti memicu hipertensi saat anak besar nanti.Agar MPASI buah hati makin sedap, gunakan penambah rasa alami seperti kunyit, cinnamon, bawnag putih, mentega, daun mint, seledri, dan lain-lain.

Tahukah Bunda mengapa tidak boleh diberikan GULA pada bayi usia dibawah 1 tahun?

• Terlalu banyak konsumsi gula mengakibatkan kerusakan gigi, menurunkan imunitas tubuh dan membuat anak mengalami masalah jantung, diabetes, obesitas saat mereka besar nanti.

• Daripada menggunakan gula pasir lebih baik menggantinya dengan sumber gula alami, misal buah manis atau madu khusus anak di atas 1 tahun.

Jadi penggunaan garam dan gula untuk anak usia di bawah 1 tahun tidak diperlukan ya, Bunda. Semoga artikel ini bermanfaat.

Cr. Ibupedia/Cr. Pic. https://healclinics.com

Kementerian Kesehatan terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan mendeteksi dini penyakit. Seperti diakhir Bulan Maret ini, tepatnya 24 Maret diperingati sebagai Hari TB Sedunia.

Tahun ini, Kemenkes melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PL) menghimbau kepada setiap masyarakat didaerah untuk aktif dalam program penanggulangan TB, karena target pemerintah untuk eliminasi TB pada tahun 2035. “Kalau tinggal menunggu pasien datang berobat maka tidak akan selesai. Harus ada kesadaran untuk melaporkan, dan salah satu caranya dengan melalui pendekatan keluarga. Peran keluarga disini sangat penting untuk melaporkan jika ada anggota keluarganya yang mengalami batuk berlangsung lama,” kata Dirjen P2PL Kemenkes Mohamad Subuh dalam temu media, Kamis 23 Maret 2017 di Kantor Kemenkes, Jakarta. Saat ini kinerja penanggulangan TB di Indonesia pada tahun 2015 ditemukan insidensi sebanyak 1.020.000 kasus, artinya 395 per 100 ribu penduduk. Sebanyak 330.729 kasus positif TB yang bisa dideteksi dengan angka keberhasilan pengobatan mencapai 84 persen. “Angka ini masih jauh dari harapan kita yang menargetkan diatas 90 persen,” ujar Subuh. Untuk lebih menemukan kasus TB yang belum terekspose, Kemenkes melakukan program baru yang diberi nama ketuk pintu “TOSS” (Temukan Obati Sampai Sembuh).

“Program ketuk pintu ini baru berjalan sekira 2 minggu dan sudah ada 120 ribu laporan yang masuk dan 600 orang ternyata positif TB. Jadi inilah keuntungan dengan adanya program ketuk pintu melalui pendekatan keluarga,” tuturnya. Dikatakan Mohamad Subuh kalau jumlah penderita TB justru lebih banyak ditemukan di kota-kota besar di Indonesia. Hal tersebut tentunya dipengaruhi salah satunya faktor lingkungan yang tidak sehat. “Kalau di kota besarkan banyak lingkungan kumuh, sanitasi tidak sehat. Berbeda dengan pedesaan yang udaranya lebih sehat dan bersih,” sebutnya. Untuk mencontoh kota besar yang ramah lingkungan, bisa meniru dari apa yang telah dilakukan pemerintah Kota Makassar, dengan menggalakan adanya lorong sehat. “Waktu saya ke Makassar, saya merasa surprise adanya lorong sehat. Selain bersih dan hijau juga warganya didata berapa orang yang terkena TB dan dilakukan pengontrolan minum obat. Kalau di Jakarta belum ada saya liat yang begini. Kalau di Surabaya baru ada lorong hijau,” terangnya.

Sumber : http://fajar.co.id/2017/03/23/eliminasi-tb-dengan-ketuk-pintu-toss/