MENIKMATI JAJANAN KHAS CHINA DENGAN HARGA BERSAHABAT

Dunia perkulineran semakin hari semakin bersaing ketat. Salah satunya adalah jajanan khas negeri tirai bambu yaitu dimsum. Nama dimsum lebih popular dikenal di negara Hongkong dibandingkan di negara asalnya yaitu di China dengan sebutan dianxin. Dimsum adalah makanan kecil yang sering disantap oleh masyarakat berdampingan dengan secangkir teh.

Kabar gembira di Kota Madiun kini sudah hadir tempat makan dimsum yang sangat affordable. Kedai dimsum tersebut bernama Mr. B. Kedai dimsum ini terletak di Ruko Stasion Wilis Pintu Utara, Belakang Kantor Satpol PP Kota Jalan Parikesit nomor 11 Kelurahan Klegen Kecamatan Kartoharjo Kota Madiun Selain rasaya yang enak, Dimsum Mr. B menyajikan rasa dimsum yang sangat enak dan harga yang juga cukup terjangkau. Varian dimsumnya pun bervariatif. Terdapat 16 varian dimsum yang dapat dipesan, diantaranya adalah siomay kakap, lumpia, kocoi, money bag, hakau, kuotiek, dan lain-lainnya.

Pemilik restoran Mr. B mematok harga antara Rp 14.000 – Rp 17.000 untuk setiap varian dimsum. Untuk harga cukup terjangkau bila dibandingkan dengan rasanya yang sangat enak. Anda tertarik untuk mencicipi? Silahkan mampir di kedai dimsum Mr. B atau kalau mager bisa langsung buka aplikasi layanan antar. Mudah bukan? (Cherlly)

TETAP TERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN, SISWA SD JALANI IMUNISASI CAMPAK

Campak merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus campak dari golongan Paramxyvius. Gejala awal campak ditandai dengan demam, batuk, pilek, mata merah dan berair diikuti dengan ruam kulit yang khas, biasanya muncul pada hari ketiga hingga hari ketujuh.

 Pemberian imunisasi untuk siswa SD perlu dilakukan karena sejak anak memasuki usia sekolah dasar terjadi penurunan tingkat kekebalan. Oleh sebab itu pemerintah menyelenggarakan imunisasi ulangan pada anak usia SD atau sederajat.

Setiap tahun siswa baru kelas I SD akan diberikan imunisasi campak secara rutin. Karena pandemi Covid-19, maka pelaksanaan imunisasi campak dilakukan sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pelaksanaan imunisasi campak tahun 2020 dilaksanakan secara terjadwal dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Adapun protokol Kesehatan yang diterapkan saat Pelaksanaan Imunisasi Campak diantaranya adalah pengukuran suhu badan saat siswa datang ke sekolah, siswa wajib memakai masker, serta skrining Kesehatan sebelum siswa mendapatkan imunisasi.

PESANTREN TANGGUH ERA PANDEMI

Wilayah Puskesmas Oro-Oro Ombo mempunyai 1 pondok pesantren yaitu Pondok Pesantren Kanzul Ulum. Pondok tersebut terletak di wilayah Kelurahan Sukosari. Untuk menunjang belajar santrinya, Pondok ini juga di fasilitasi dengan MTS dan MA Pertanian.

Di dukung oleh kebijakan kegiatan pesantren dan revitalisasi rumah ibadah dalam menghadapi New Normal yang di keluarkan di Jakarta pada tanggal 27 Mei 2020, maka di era pandemi ini Pondok Pesantren Kanzul Ulum memberanikan diri untuk menggelar pembelajaran tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat di wilayah pondok. Protokol tersebut di antaranya adalah :

Pengukuran suhu dan pemakaian hand sanitizer

Setiap pengunjung yang akan masuk ke pondok wajib untuk di ukur suhunya dan memakai hand sanitizer atau cuci tangan.

Menyediakan tempat CTPS

Tempat cuci tangan yang memadai disediakan pihak pondok di depan ruang kelas dengan tujuan warga pondok selalu mencuci tangan sebelum dan setelah kegiatan belajar mengajar.

Tempat tidur berjarak

Tempat tidur  tidak  memakai dipan kayu supaya mudah membuat jarak.

Masjid dengan menerapkan Physical Distancing

Lantai masjid di berikan tanda silang untuk menerapkan Physical Distancing atau jaga jarak saat menjalankan ibadah sholat.

Para santri yang akan memasuki pondok pesantren wajib melakukan Rapid Test dan keluarga tidak diperkenankan untuk melakukan kunjungan. Hal ini dimaksudkan agar mempersempit ruang lingkup penyebaran Covid-19.

Semoga dengan berdenyutnya kembali aktifitas Pondok Pesantren dapat meningkatkan ikhtiar serta pendekatan diri kepada Allah SWT. Sehingga pandemi Covid-19  segera nerakhir dan para santri dapat menatap dan melangkah menuju masa depan lebih cerah.

Oleh : Puspita Fajar Santika

Editor : Cherlly Pritta

CEGAH STUNTING, PUSKESMAS GIAT BERIKAN PMT

Pandemi Covid-19 telah berlangsung sekitar delapan bulan di Indonesia sejak kasus pertama ditemukan pada bulan Maret dan menimbulkan dampak negatif pada berbagai sektor, salah satunya pada kesehatan dan gizi masyarakat. Dampak lainnya berpotensi meningkatkan angka stunting pada balita ditambah kegiatan pemantauan status gizi pada anak balita yang dilakukan setiap bulan di posyandu juga turut terhenti sementara waktu selama pandemi Covid-19 berlangsung.

Pemerintah Kota Madiun berupaya menjamin kecukupan gizi masyarakat walau pandemic belum berakhir. Dinas Kesehatan dan KB Kota Madiun bekerja sama dengan Puskesmas berinovasi memberikan upaya kecukupan dan perbaikan gizi masyarakat terutama pada kelompok rawan gizi di wilayah kerja Puskesmas masing-masing. Upaya perbaikan gizi yang dimaksud adalah dengan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) diperuntukkan untuk balita stunting gizi buruk/gizi kurang selama 90 hari.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ada dua jenis yaitu jika balita stunting dengan gizi kurus usia diatas 12 bulan maka akan diberikan susu. Sedangkan pemberian biskuit diberikan pada pada kasus balita kurus di usia 6-59 bulan. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) harus tetap giat dilakukan karena konsumsi gizi yang baik dan seimbang merupakan modal utama untuk melawan virus.

Oleh : Dea Mustika Hapsari, S.Gz

Editor : Cherlly Pritta R.

ADAPTASI KEBIASAAN BARU, PELAKSANAAN SURVEY HAJATAN ERA PANDEMI

Untuk memastikan kesesuaian antara pemaparan protokol kesehatan yang tertulis dengan keadaan yang sesungguhnya di lapangan maka tim gugus Kecamatan melakukan survey hajatan secara langsung. Tim gugus kecamatan, khususnya Kecamatan Kartoharjo merupakan gabungan dari beberapa lintas sektor diantaranya kecamatan, kelurahan, babinsa, babinkamtibnas, serta puskesmas. Tim inilah yang menilai secara langsung apakah suatu hajatan mendapatkan rekomendasi untuk digelar atau tidak.

Indonesia telah memasuki era new normal di tengah pandemi Covid-19 yang telah melanda sejak awal tahun 2020. Kegiatan yang semula dapat dilakukan seperti biasa, saat ini harus selalu diikuti dengan protokol kesehatan yang ketat atau istilah barunya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Hal ini berlaku juga di Kota Madiun. Pemerintah Kota Madiun telah mengijinkan bagi warga yang akan menggelar hajatan pernikahan namun dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Warga yang akan menggelar hajatan harus mengajukan ijin terlebih dahulu ke tim gugus Kota Madiun dan memaparkan protokol kesehatan yang diterapkan dalam kegiatan hajatan secara tertulis.

Adapun yang perlu disiapkan oleh penggelar hajatan meliputi kesesuaian jumlah tamu undangan dengan tempat dan waktu acara. Jumlah tamu undangan di masa pandemi ditentukan maksimal 50% dari kapasitas yang sebenarnya. Apabila diperlukan bisa juga diberlakukan pembagian waktu. Tujuannya agar tamu undangan yang hadir tidak berjubel, sehingga penerapan physical distancing tetap terpenuhi. Selain itu, skema protokol kesehatannya (ketersediaan masker cadangan, tempat cuci tangan, hand sanitizer, pengecekan suhu tubuh, tempat sampah, penyemprotan desinfektan, dan sebagainya) juga wajib diperhatikan.

Penggelar hajatan wajib membentuk tim pendekar waras minimal 10% dari jumlah tamu undangan. Tim pendekar waras inilah yang bertugas sebagai pengawas dan pelaksana dalam menerapkan protokol kesehatan saat hajatan berlangsung. Hal lain yang krusial adalah pengaturan tempat makan, semi prasmanan dan/atau nasi kotak. Apabila dalam bentuk nasi kotak alangkah lebih baiknya. Namun tidak menutup kemungkinan dengan semi prasmanan, oleh karena itu harus ada penyaji makanan yang menata menunya sehingga tamu undangan tidak banyak menyentuh alat makan secara bergantian.

Harapannya, dengan adanya survey hajatan ini penerapan protokol kesehatan selama hajatan berlangsung dapat terpenuhi sehingga tidak muncul kluster baru Covid-19 akibat pelaksanaan hajatan.

Oleh : Shita Addina

KIAT OLAHRAGA AMAN DIKALA PANDEMI

Ditengah kondisi pandemi Covid-19 yang terus meningkat jumlah kasusnya di Indonesia, banyak masyarakat yang sudah kembali melakukan aktivitasnya. Sering sekali kita melihat lalu lalang orang bersepeda atau sekedar berjemur di lingkungan rumah bukan? Olahraga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan Olahraga boleh saja dilakukan, namun kita juga perlu tetap waspada akan bahaya penyebaran Virus Corona ini. Simak 7 tips sehat agar kalian tetap aman saat berolahraga!

  1. Sebelum berolahraga, pastikan tubuh dalam keadaan sehat tanpa ada gangguan seperti batuk, demam, pilek,  nyeri tenggorokan, sesak nafas. Jika mengalami gangguan kesehatan pastikan kalian melakukan olahraga di rumah saja. 
  2. Sebelum memasuki ruang publik untuk berolahraga, cucilah tangan terlebih dahulu, tetap jaga jarak dan pakailah masker. Nah, olahraga yang dapat dilakukan dengan menggunakan masker adalah olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang atau olahraga yang masih memungkinkan kita untuk berbicara (olahraga intensitas sedang 30 menit selama 4-5 hari seminggu dapat meningkatkan antibodi dalam tubuh)
  3. jangan terlalu memaksa diri untuk berolahraga. Misalnya apabila badan sudah letih dan terengah-engah. Kalau ini terjadi, lebih baik hentikan dulu olahraga dan mencari tempat yang sepi. Lepas masker yang dipakai dan mulailah mengatur pernapasan serta istirahat sejenak.
  4. Untuk orang yang jarang olahraga namun ingin memulai olahraga mulailah secara pelan dan lakukan secara berkesinambungan
  5. Disarankan untuk tidak melakukan olahraga yang bisa bersentuhan dengan orang lain. Misalnya bulutangkis, bola voli, bola basker, apalagi sepakbola
  6. Hindari menyentuh area wajah saat sedang berolahraga terutama usai menggunakan alat olahraga di tempat umum
  7. Sesudah berolahraga segeralah cuci tangan, mandi dan mengganti pakaian yang digunakan saat berolahraga di tempat umum. Jika diperlukan setelah tiba di rumah bersihkan handphone, tas atau barang bawaan lainnya dengan cairan desinfektan.

Oleh : Nur Risca Azizah, S.KM